Pendidikan merupakan ikhtiar untuk
mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari
berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan yang dialami oleh masyarakat, baik
dari soal kebodohan sampai ketertinggalan (Paulo Freire).
Selama ini
terjadi salah paham atau salah kaprah mengenai tujuan dari pendidikan. Banyak
orang menilai dan berangapan bahwa pendidikan adalah tempat untuk mendapatkan
gelar atau ijasah. Di Indonesia (dunia pendidikan) fenomena sepertinya ini
menjadi biasa dan kebiasaan hingga sekarang. Orang tua yang menyekolahkan
anak-anaknya terutama demi memperoleh gelar saja. Hasil akhir dari pendidikan
yang demikian akan berdampak pada penyelewengan ilmu. Gelar ataupun ijasah
seolah-olah menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan manusia. Nilai
kuantitaif dijadikan lebih tinggi dari ilmunya.
Pendidikan adalah tempat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu didapat dengan belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Tidak mungkin ada orang yang memperoleh ilmu tanpa belajar. Orang yang menuntut ilmu tidak kenal batas usia. Seperti kata bijak tuntutlah ilmu mulai dari lahir hingga kembali mati. Ilmu merupakan pengetahuan (kognitif)yang diperoleh dari proses berpikir (rasio).Manusia yang senantiasa berpikir berarti ia selalu mencari ilmu. Manusia yang berilmu akan sanggup mengerti tentang arti kehidupan di dunia. Dunia yang luas penuh dengan teka-teki kehidupan. Hanya dengan ilmulah semua teka-teki kehidupan dunia dapat dipecahkan. Di yunani masa silam, banyak lahir para pemikir atau filsafat yang handal. Aristoteles merupakan manusia yang senang berpikir dan mencari jawaban dari pertanyaan yang menggangu pikirannya. Dalam filsafat dikenal dengan ilmu metafisika, estetika. Pertanyaan yang sering diajukan termasuk sederhana dan mendasar. Pertanyaan itu adalah apa, siapa, kapan, bagaimana, dimana, berapa. Dengan pertanyaan seperti itulah lahir seorang pemikir seperti aristoteles, Socrates dll.
1. Jalan menuju pendidikan dan ilmu sejati
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang istimewa. Dalam diri manusia dibekali akal pikiran dengan tujuan untuk berpikir. Berbeda dengan makhluk lain (hewan dan tumbuhan) yang tidak diberikan akal pikiran oleh tuhan. Namun hewan dan tumbuhan mampu untuk bertahan hidup di dunia dengan mengandalkan naluri atau nafsunya. Hewan akan makan ketika merasakan laper begitu pula tumbuhan. Manusia pun akan makan jika rasa lapar menyerang. Manusia sudah tentu beda dengan hewan dan tumbuhan. Pada hewan dan tumbuhan sifat naluri dan nafsu lebih dominan dan selalu terdepan. Lalu bagaimana dengan manusia??. Manusia yang berakal selalu menggunakan akal pikirannya lebih utama dan terdepan dari pada naluri dan nafsu. Jika ingin makan maka manusia senantiasa mencari dan memilih jenis makanan apa saja yang dapat dimakan dan sehat bagi tubuh.
Akal pikiran yang dimiliki manusia menjadikan kedudukannya lebih tinggi dari hewan dan tumbuhan. Manusia yang sadar dan mengerti tentang kegunaan akal dan pikiran akan berusaha untuk terus menggunakannya sebaik-baiknya. Pikiran yang ada pada manusia tidak akan dapat bertambah jika tidak pernah diasah. Akal pikiran tersebut diasah dengan cara belajar terus-menerus sampai kapanpun jua. Pikiran yang selalu terasah akan menghasilkan ide-ide yang cemerlang dan gemilang. Pendidikan merupakan salah satu tempat untuk mengasah otak/pikiran manusia.
Pendidikan menawarkan banyak pengetahuan (kognitif). Pengetahuan yang tidak akan nada habis-habisnya. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa pengetahuan selesai jika telah berhasil menempuh pendidikan. Pengetahuan wajib dikejar sampai kapanpun dimanapun berada. Apabila telah mendapatkan pengetahuan maka jangan pernah merasa puas pada pengetahuan itu. Jadilah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang telah didapatnya. Jika ada manusia pembelajar yang mudah merasa puas dengan pengetahuan yang diperolehnya maka ia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Pada dasarnya pembelajar sejati adalah manusia yang secara terus – menerus tanpa henti hingga ujung waktu untuk menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuannya. Baginya tidak ada kata berhenti untuk belajar. Menuntut ilmu harus dijalani dengan rasa semangat dan dilandasi cita-cita yang luhur. Menjadi pembelajar sejati adalah cita-cita manusia berpikir. Pendidikan hanya alat yang dapat mengantarkan manusia untuk menjadi pembelajar sejati. Otak manusia adalah alat yang mampu untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Pendidikan adalah tempat untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu didapat dengan belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Tidak mungkin ada orang yang memperoleh ilmu tanpa belajar. Orang yang menuntut ilmu tidak kenal batas usia. Seperti kata bijak tuntutlah ilmu mulai dari lahir hingga kembali mati. Ilmu merupakan pengetahuan (kognitif)yang diperoleh dari proses berpikir (rasio).Manusia yang senantiasa berpikir berarti ia selalu mencari ilmu. Manusia yang berilmu akan sanggup mengerti tentang arti kehidupan di dunia. Dunia yang luas penuh dengan teka-teki kehidupan. Hanya dengan ilmulah semua teka-teki kehidupan dunia dapat dipecahkan. Di yunani masa silam, banyak lahir para pemikir atau filsafat yang handal. Aristoteles merupakan manusia yang senang berpikir dan mencari jawaban dari pertanyaan yang menggangu pikirannya. Dalam filsafat dikenal dengan ilmu metafisika, estetika. Pertanyaan yang sering diajukan termasuk sederhana dan mendasar. Pertanyaan itu adalah apa, siapa, kapan, bagaimana, dimana, berapa. Dengan pertanyaan seperti itulah lahir seorang pemikir seperti aristoteles, Socrates dll.
1. Jalan menuju pendidikan dan ilmu sejati
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang istimewa. Dalam diri manusia dibekali akal pikiran dengan tujuan untuk berpikir. Berbeda dengan makhluk lain (hewan dan tumbuhan) yang tidak diberikan akal pikiran oleh tuhan. Namun hewan dan tumbuhan mampu untuk bertahan hidup di dunia dengan mengandalkan naluri atau nafsunya. Hewan akan makan ketika merasakan laper begitu pula tumbuhan. Manusia pun akan makan jika rasa lapar menyerang. Manusia sudah tentu beda dengan hewan dan tumbuhan. Pada hewan dan tumbuhan sifat naluri dan nafsu lebih dominan dan selalu terdepan. Lalu bagaimana dengan manusia??. Manusia yang berakal selalu menggunakan akal pikirannya lebih utama dan terdepan dari pada naluri dan nafsu. Jika ingin makan maka manusia senantiasa mencari dan memilih jenis makanan apa saja yang dapat dimakan dan sehat bagi tubuh.
Akal pikiran yang dimiliki manusia menjadikan kedudukannya lebih tinggi dari hewan dan tumbuhan. Manusia yang sadar dan mengerti tentang kegunaan akal dan pikiran akan berusaha untuk terus menggunakannya sebaik-baiknya. Pikiran yang ada pada manusia tidak akan dapat bertambah jika tidak pernah diasah. Akal pikiran tersebut diasah dengan cara belajar terus-menerus sampai kapanpun jua. Pikiran yang selalu terasah akan menghasilkan ide-ide yang cemerlang dan gemilang. Pendidikan merupakan salah satu tempat untuk mengasah otak/pikiran manusia.
Pendidikan menawarkan banyak pengetahuan (kognitif). Pengetahuan yang tidak akan nada habis-habisnya. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa pengetahuan selesai jika telah berhasil menempuh pendidikan. Pengetahuan wajib dikejar sampai kapanpun dimanapun berada. Apabila telah mendapatkan pengetahuan maka jangan pernah merasa puas pada pengetahuan itu. Jadilah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang telah didapatnya. Jika ada manusia pembelajar yang mudah merasa puas dengan pengetahuan yang diperolehnya maka ia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Pada dasarnya pembelajar sejati adalah manusia yang secara terus – menerus tanpa henti hingga ujung waktu untuk menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuannya. Baginya tidak ada kata berhenti untuk belajar. Menuntut ilmu harus dijalani dengan rasa semangat dan dilandasi cita-cita yang luhur. Menjadi pembelajar sejati adalah cita-cita manusia berpikir. Pendidikan hanya alat yang dapat mengantarkan manusia untuk menjadi pembelajar sejati. Otak manusia adalah alat yang mampu untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Pendidikan menjadi gerbang bagi manusia yang
ingin berpikir. Gerbang yang hanya sebagai penstimulus manusia. Dari sini maka
pendidikan yang bercita-cita pada ilmu pengetahuan dan bukan pada ijasah/gelar
perlu mengetahui makna pendidikan. Oleh Prof Dr Sutjipto (guru besar UNJ)
mengatakan bahwa (1) pendidikan mempunyai kedekatan atau bahkan kesamaan dengan
proses belajar dan penggunaannya menjadi interchangable dengan belajar.( 2)
pendidikan juga bermakna pelatihan, karena pelatihan juga membantu seseorang untuk
mampu melakukan penyesuaian terutama dalam melakukan sesuatu. Pendidikan adalah
belajar untuk mengasosiasikan stimulus dan respons; (3) pendidikan juga berarti
proses untuk menguasai ilmu, ilmu sebenarnya adalah value free. (4) Jika proses
interaksi itu menyangkut belajar untuk hidup dalam suatu tatanan masyarakat serta
menginternalisasi nilai-nilai, maka pendidikan berarti pendidikan nilai.
2.Pendidikan
untuk nilai (value free) bukan nilai untuk pendidikan
Pendidikan ibarat sebuah ladang ilmu yang tak
pernah kering dan kekeringan. Pendidikan menjadikan manusia lebih bernilai dan
berharga karena selalu berpikir tanpa henti. Ilmu dipandang sebagai sebuah
pengetahuan yang tidak dapat ditukarkan atau tergantikan oleh apapun (emas atau
berlian). Ilmu mampu mengubah diri manusia menjadi lebih bernilai. Manusia juga
mampu mengubah dunia dengan ilmu. Namun ingat bahwa ilmu harus di ikuti dengan
iman. Iman merupakan keyakinan manusia kepada sang khalik (4w1). Iman dan ilmu
harus berjalah beriringan atau seimbang dan saling melengkapi. Jangan sampai
berat sebelah karena akan berakibat fatal. Dalam hal ini Rasulullah nabi
Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ilmu tanpa iman akan gersang, dan iman tanpa
ilmu akan binasa.
Dalam dunia pendidikan terdapat ujian atau test
yang bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan manusia (pelajar/mahasiswa).
Nilai diberikan baik jika hasil tes atau ujian berhasil dikerjakan dengan baik
dan benar. Hal itu adalah pengukuran yang tidak wajib untuk dilakukan.
Pengukuran yang berakhir dengan penilaian baik buruk akan membawa dampak
positif dan negatif bagi pembelajar. Dampak positif tersebut diantaranya
penilaian akan memicu semangat pembelajar untuk terus belajar. Sedangkan dampak
negatifnya yaitu seorang pembelajar akan melakukan hal apapun (cara yang
terlarang) untuk dapat memperoleh nilai yang baik. Tekanan dan keharusan untuk
mendapatkan nilai baik menjadi pemicu pembelajar untuk berbuat terlarang.
Salah seorang pengamat pendidikan YB Manguwijaya mengatakan bahwa
pendidikan untuk kebebasan. Kebebasan yang berarti melawan kebodohan melalui
pendidikan. Kebodohan merupakan penyakit yang seharusnya diobati karena akan
membawa resiko kehancuran umat. Obat yang mujarab yaitu melalui pendidikan. YB
Mangunwijaya juga berkata bahwa ‘pendidikan berbasis realitas sosial’.
Pendidikan merupakan bagian dari aktifitas social manusia. Pendidikan yang
mempelajari sains dan social maka tidak terlepas untuk mengerti tentang
realitas social. Realitas social yaitu keadaan sebenarnya yang sedang terjadi di
masyarakat yang perlu untuk diketahui dan dipelajari.
3.Pendidikan untuk semua kalangan
Pendidikan merupakan hak asasi semua orang
yang hidup di bumi ini. Maka kewajiban bagi Negara dan pemerintah untuk terus
mengupayakan pendidiakan yang berkualitas bagi masyarakatnya. Jika pendidikan
dilanggar atau tidak disediakan oleh Negara maka Negara telah melanggar hak
asasi semua orang. Dalam menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia. Ilmu merupakan
harta yang sulit untuk di dapat. Orang bisa dengan mudah untuk mendapatkan uang
atau materi lainnya, namun ilmu tidak demikian. Ilmu adalah senjata untuk
menuju manusia yang cerdas dan berwawasan. Tanpa ilmu maka manusia secara
perlahan menyiapkan kehancuran bagi dirinya.
Dimanapun bumi berpijak, tuntutlah ilmu hingga akhir hayatmu.
Dimanapun bumi berpijak, tuntutlah ilmu hingga akhir hayatmu.
